Home Sekolah
Sekolah Megah tapi Gratis

SEMARANG - Sebuah gedung berlantai tiga berdiri kokoh di dekat Kali Semarang. Sangat megah terlihat dan kontras dengan bangunan sekelilingnya yang didominasi perumahan kumuh. Sementara itu puluhan anak nampak berlarian di halaman, ruangan dan di seantero bangunan tersebut.

Itulah sekilas gambaran situasi keseharian di Taman Pendidikan Anak Khong Kauw Hwee. Sekolah yang berlokasi di Gang Lombok 60 Kelurahan Purwodinatan Semarang tersebut tergolong sangat unik. Seringkali orang terkecoh dengan tampilan bangunannya.

Banyak sekali sarjana-sarjana pendidikan yang berniat bekerja di sekolah ini. Dan mayoritas mereka menginginkan gaji yang sangat tinggi karena mengira sekolah ini didukung oleh yayasan yang punya banyak dana.

"Mereka biasanya sangat terkejut setelah kami jelaskan bahwa sekolah ini murid-muridnya semua adalah anak miskin.

Mereka tak mengira kalau sekolah ini gratis. Bahkan mereka semakin terperanjat setelah tahu jika kami guru-guru di sini hanya digaji tak seberapa," jelas Indrawati (49) Kepala Sekolah Taman Pendidikan Anak "Khong Kauw Hwee".

 

Ya, seluruh murid yang bersekolah di sini bebas dari segala macam biaya. Itu karena memang orang tua mereka tak mampu membiayai sekolah. Jika tidak gratis mustahil anak-anak tersebut bisa menikmati bangku sekolahan.

Taman Pendidikan Anak "Khong Kauw Hwee" ini bermula dari tahun 1940-an tatkala seorang yang bernama Lie Ping Lien salah seorang penganut agama Khong Hu Cu sering melihat anak-anak kecil yang bermain di sekitar Kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok.

Mereka adalah anak-anak yang mengungsi bersama orang tuanya. Orang-orang ini berasal dari berbagai daerah seperti Yogyakarta, Solo, Magelang, Purwokerto, Demak dan lain-lain. Karena kelaparan akhirnya mereka mengungsi ke Semarang.

Lie Ping Lien hatinya lantas tersentuh melihat anak-anak itu tiap hari hanya bermain-main tanpa mendapatkan pendidikan. Lie ingin satu saat mereka tidak menjadi orang yang buta huruf. Dia lalu mengutarakan ide pada rekan-rekannya untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak pengungsi itu. Dan ternyata mendapat sambutan bak dari Liem Khiem Siang, Ong Yong Wie, Tan Ngo Siang dan Be Sik Tjong.

Mereka lalu sepakat untuk mendirikan kegiaan kursus pemberantasan buta huruf secara gratis. Modalnya pertama kali diperoleh dari hasil perayaan hari ahir ke 2500 Nabi Khong Hu Cu sebesar Rp 800. Uang sebesar itu lalu ditambah dengan sumbangan Be Sik Tjong sebesar Rp 1000.

Uang itu lalu dipergunakan untuk membuat sejumlah meja dan bangku dari kayu suren. Setelah itu barulah pada 1 Januari 1950 mulai dilaksanakan Kursus Pemberantasan Buta Huruf. Di awal tahun ajaran ada sekitar 60 murid yang ikut kursus.

Lama kursus gratis ini adalah 12 bulan yang terbagi menjadi dua tingkatan. Mereka mempelajari cara membaca, menulis dan berhitung.

Ternyata setelah berjalan dua angkatan ternyata murid-muridnya kebanyakan adalah anak-anak usia sekolah. Untuk itulah kemudian kursus ini diubah menjadi Taman Pendidikan Anak "Khong Kauw Hwee".

Dalam aktifitasnya sekolah ini saat itu menggunakan ruangan mlik Yayasan Kong Tik Soe di sebelah kelenteng Tay Kak Sie. Seiring perkembangan zaman, yang menjadi murid tak hanya anak-anak pengungsi namun juga warga sekitar yang miskin.

Jumlah murid Taman Pendidikan Anak "Khong Kauw Hwee" ternyata semakin banyak. Pada tahun 1952 jumlah murid mencapai 150 anak dan itu membuat ruangan kelas menjadi sesak.

"Kemudian dari yayasan Tjie Lam Tjay menawaran kantornya digunakan sebagai ruangan sekolah," jelas Indrawati.

Pada tahun 1969 jenjang pendidikan Taman Pendidikan Anak "Khong Kauw Hwee" hanya sampai pada kelas IV. Baru pada 1979/1980 jenjang pendidikannya ditingkatkan sampai kelas VI SD.

Secara bertahap gedung sekolah dibangun dari tahun 1990. Setelah selesai pada 9 Oktober 1992 gedung megah itu diresmikan oleh Wali Kota Semarang Soetrisno Suharto. Dalam peresmian itu Soetrisno Suharto memberikan nama Kuncup Melati bagi sekolah ini.

Kini jumlah murid Taman Pendidikan Anak "Khong Kauw Hwee" mencapai ratusan siswa pada tingkatan SD dan TK. Selain diajarkan pendidikan formal mereka juga diberikan pelajaran keterampilan membuat dupa, wayang potehi, sulaman dan lain-lain.

"Itu supaya mereka memiliki ketrampilan untuk mencari nafkah jika tidak melanjutkan pendidikan di tingkat yang lebih tinggi," kata Indrawati.

Lulusan dari Taman Pendidikan Anak "Khong Kauw Hwee" sudah sangat banyak. Di antara mereka ada yang melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi dan ada juga yang menjadi wiraswastawan sukses. Bahkan di antara lulusan itu sekarang banyak juga yang mengabdikan di Taman Pendidikan Anak "Khong Kauw Hwee" sebagai guru dan karyawan.

Sampai sekarang Taman Pendidikan Anak "Khong Kauw Hwee" masih menerapkan sekolah gratis. Mereka menerima siswa dari golongan dan agama apapun.

Sementara itu Lurah Purwodinatan Eddy Prasetyo menyatakan sangat mendukung keberadaan sekolah ini. Hal itu karena banyak warga Purwodinatan yang menyekolahkan anak-anaknya di Taman Pendidikan Anak "Khong Kauw Hwee".

"Warga kami banyak yang miskin dan tak mampu menyekolahkan anaknya. Dengan adanya sekolah gratis ini anak-anak bisa menikmati pendidikan," kata Eddy Prasetyo.

Berhubungan dengan diajarkannya pula budi pekerti yang berhubungan dengan ajaran agama Khong Hu Cu, Eddy menyatakan tak khawatir.

"Mereka tidak takut atau curiga dengan bersekolah di Khong Kauw Hwee akan membuat anak-anak mereka berpindah agama. Buktinya anak-anak itu masih tetap rajin ke masjid untuk sembahyang maupun mengaji. Tidak ada kecurigaan di antara kami," tandasnya. (fit)

Sumber : OkeZone

 


Copyright @ 2010 KhongKauwHwee. Allright Reserved. WebMaster